METODE PENELITIAN PENDIDIKAN & PENGEMBANGAN
Oleh : Prof. Dr. H. Punaji Setyosari, M.Ed.
Edisi keempat
Dosen pembimbing : Rini Ekayati, S.S.,M.Hum
Assalamualaikum Wr.Wb.
BAB I PENDAHULUAN
Untuk melaksanakan tugas Dosen secara profesional ada 3 cara yang harus dilakukan secara terencana yaitu dengan pengalaman mengajar, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Seorang Dosen dalam melaksanakan tugasnya haruslah inovatif dan dituntut untuk proaktif. Hal yang kedua yaitu melaksanakan penelitian dan mengembangkan karya ilmiah. Dalam penelitian haruslah berkaitan dengan bukti-bukti dan disertai referensi-referensi. Untuk itu buku Penelitian Pendidikan dan Pengembangan ini dihadirkan untuk membantu para dosen, dan pembaca lainnya untuk dapat dipakai sebagai bahan bacaan dan rujukan.
BAB II PENGETAHUAN DAN PENDEKATAN ILMIAH
A. Defenisi Ilmu Pengetahuan
Menurut Moliono,dkk,1988 pengetahuan dapat didefenisikan sebagai segala sesuatu yang diketahui atau segala sesuatu yang berkenaan dengan hal. Pengetahuan dapat berupa fakta-fakta dan informasi. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang telah dikenali atau diketahui. Ilmu pengetahuan berbeda dengan pengetahuan. Ilmu sebagai science merupakan aktivitas berfikir atau kegiatan olah pikir manusia. Dengan demikian , menurut pandangan dinamis atau heuristik dalam ilmu pengetahuan menekankan pada skemata kenseptual yang saling berkaitan sehingga berguna untuk penelitian yang akan datang atau penelitian berikutnya.
B. Metode Penelitian
Metode pengetahuan ilmiah merupakan salah satu cara yang sangat populer dan komprehensif bagaimana cara ilmuan memperoleh dan menguji prinsip-prinsip, hukum-hukum, atau generalisasi. Salah seorang tokoh yang sangat terkenal dengan metode ilmiahnya (scientific method) adalah John Dewey (dalam Vockell & Asher, 1995) yang telah mengidentifikasikan langkah-langkah proses ilmiah (scientific process). Menurut Dewey ada 4 langkah pokok dalam proses ilmiah yang meliputi :
1. Identifikasi suatu masalah
Identifikasi masalah yang yang urgen dan tidak urgen karena tidak semua masalah harus ditangani segera. Masalah yang urgen tersebut terlebih dahulu dipecahkan dan dicari jawabannya.
2. Perumusan hipotesis
Merumuskan hipotesis adalah langkah yang tepat dalam kaitannya dengan usaha mendapatkan jawaban yang tepat.
3. Penalaran dan deduksi
Dalam hal ini kita menggunakan teori bernalar (reasoning) yang kita lakukan memberikan gambaran bahwa landasan teori dan rasional itu perlu untuk memberikan alasan bahwa masalah yang kita pecahkan itu didukung dengan teori yang ada atau mungkin cukup dengan kajian rasional.
4. Verifikasi, modifikasi, atau penolakan hipotesis.
Dalam hal ini kita akan memverikasi hipotesis tersebut apakah kita terima atau kita tolak. Jika data mendukung hipotesis, maka hipotesis kita terima dan sebaliknya.
C. SUMBER-SUMBER PENGETAHUAN
1. Pengalaman (Experience)
Sumber – sumber pengetahuan berasal dari pengalaman hidup sehari-hari. Dimana pengalaman pribadi setiap orang sangat beragam da berbeda. Dengan kata lain pemikiran manusia berbeda – beda terhadap hal atau suatu objek yang sama itulah kelemahan pengalaman pribadi dalam pemecahan masalah. Pemecahaan masalah dnegan mengunakan pengalaman pribadi juga sangat terbatas.
2. Kewenangan atau otoritas (authority)
Kewenangan yaitu memiliki kemampuan atau kapabiltas dalam hal tertentu. Wewenang ini juga sering dipakai dalam memecahkan persoalan – persoalan yang ada. Mislanya masalah perbankan moneter, yang memahami hal tersebut adalah orang-orang yang berdkecimpung dala bidang tersebut.
3. Berfikir deduktif (Deductive Thinking)
Dalam hal ini kita harus berfikir secara logis dan masuk akal.
4. Berfikir induktif (Inductive Thinking)
Dalam hal ini penelitian haruslah berdasarkan penalaran dan pengamatan atau fakta yang ada di lapangan.
5. Berfikir Ilmiah (Scientific Thiking)
Dalam hal ini proses berfikir ilmiah harus berdasarkan penalaran terhadapa suatu hal yang sesuai dengan prosedur ilmiah.
D. PENDEKATAN ILMIAH DALAM PROSES PENELITIAN
Sebagai peneliti umumnya bekerja atas dasar pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah diterapkan untuk menyelidiki masalah pendidikan, maka hasilnya adalah penelitian pendidikan. Penelitian pendidikan merupakan suatu cara yang digunakan oleh para pendidik atau peneliti pendidikan untuk memperoleh informasi yang signifikan, artinya bahwa tindakan tersebut dilandasi fakta atau data yang dianalisis untuk dijadikan suatu keputusan yang tepat.
E. KARAKTERISTIK PROSES PENELITIAN
Tujuan penelitian ilmiah dalah untukj menemukan jawaban atas suatu masalah yang berarti (signifikan) dengan melalui pendekatan – pendekatan atau prosedur – prosedur ilmiah.
Karakteristik proses peneltian , yaitu :
1. Sistematis
2. Logis
3. Empiris
4. Reduktif
5. Pengylangan dan transmisi
F. PERTIMBANGAN – PERTIMBANGAN DALAM PROSES PENELITIAN
1. Hak privasi atau nonpartisipasi
Untuk menjaga kerahasian hal – ihwal subjek penelitian , peneliti harus :
a. Menghindari adanya pertanyaan – pertanyaan yang tidak perlu ditanyakan diluar konteks penelitiannya;
b. Menolak rekaman dari respons yang diberikan
c. Memproleh persetujuan dari responden berkenaan dengan penelitiannya.
2. Hak tidak disebut nama
Untuk menjamin kerahasiaan nama, ada dua cara yang digunakan. Pertama, peneliti biasanya tertarik untuk menggunakan dta kelompok daripada data tunggal dan dengan demikian skor – skor yang diperoleh dari individu – individu dikelompokkan secara bersama – sama dan dilaporkan sebagai rata-rata. Kedua, subjek yang dijadikan sebagai partisipan atau responden diidentifikasi lebih dahulu berdasarkan nomor bukan berdasrkan namanya.
3. Kerahasiaan
Untuk menjamin hal ini , peneliti seharusnya :
a. Menyusun semua data berdasarkan angka bukannya berdasarkan nama responden;
b. Menghilangkan naskah – naskah tes secepat mungkin setelah penelitian dilakukan ; dan
c. Apabila mungkin memberikan kepada responden kuesioner yang dilengkapi dengan sampul dan bahkan disertai dengan perangko.
4. Meminta pertanggungjawaban peneliti
Tanggung jawab untuk menjaga kerahasiaan (privasi) dan kemampuan responden menjadi hal yang sangat penting. Tanggung jawab ini menjadi perinci sebagai seorang ilmuan.
G. LANGKAH – LANGKAH PROSES PENELITIAN
Menurut Mikkelsen ada 6 unsur dalam tahap penelitian yang meliputi : (1) merumuskan masalah, (2)mengkaji teori, (3) mengumpulkan data, (4)melakukan analisis, (5) melakukan interpretasi, (6) mengambil kesimpulan. Sebagai peneliti haruslah memiliki keterampilan dalam melaksanakan penelitian, inilah tujuan pembahasan pada kali ini agar peneliti mendapat gambaran unruk melakukan penelitian yang baik. Berikut beberapa langkah – langkah dalam proses penekitian secara umum.
1. Identifikasi dan Melakukan Masalah
2. Kajian Pustaka atau Literature
3. Menyusun atau merumuskan hipotesis
4. Identifikasi, klasifikasi, dan defenisi operasional variabel
5. Rancangan penelitian
6. Penentuan populasi
7. Pemilihan dan pengembangan instrumen
8. Pengumpulan data
9. Pengolahan dan analisis data
10. Interpretasi dan diskusi hasil penelitian
11. Penyususnan laporan penelitian
BAB III
HAKIKAT PENELITIAN PENDIDIKAN
A. BATASAN PENELITIAN
Penelitian didefenisikan sebagai, “a systematic and careful investigation of a particular subject.”
Tuckman (1988, 1999, 2012). Tuckman juga mengemukakan batasan tentang penelitian sebagai berikut, “ research is a systematic attempt to provide answer to questions.” Jawaban atas masalah ini mungkin bersifat abstrak dan umum seperti halnya kita temukan dalam masalah penelitian dasar (basic research), atau jawaban tersebut mungkin sangat konkret dan khusus sebagaimana kita dapatkan dalam penelitian terapan (applied research) dan penelitian tindakan (action research).
Batasan yang sesuai dengan pandangan vockell & Asher (1995). Yang menyatakan, “Scientific research is a dilligent and systematic inquiry or investigation of a subject to discover or revise facts, theories, or applications.” Penelitian ilmiah persoalan kepastian. Hal ini adalah proses menjalankan tuntunan yang memungkinkan kita semakin memperluas dan tepat melakukan generalisasi tentang fenomena yang menjadi perhatian kita.
B. PENELITIAN ILMIAH
Suatu penelitian ilmiah bukanlah sesuatu kegiatan atau aktivitas yang hanya mempersoalkan kepastian, tetapiia juga ingin mencari berbagai alternatif jawaban suatu masalah fenomena apakah dalam lingkup sosial maupun masalah-masalah laboratoris.
Pengertian penelitian ilmiah ini sejalan dengan batasan yang dikemukakan Asher dan Vockhell yaitu penelitian ilmiah , “scientific research is a diligent and systematic inqury or investigation of a subject to discover or revise facts, theoris, or applications.” Menurut batasan tersebut, penelitian ilmiah itu merupakan penyelidikan atau investigasi yang dilakukan secara sistematik,terkendali, empiris, tidak menyangkut masalah moral, besifat publik, dan kritis, tentang masalah-masalah alamiah. Tujuan penelitian adalah ingin menemukan prinsip-prinsip umum, atau menafsirkan tingkah laku yang dapat digunakan untuk menerangkan dan mengendalikan kejadian-kejadian dalam lingkup pendidikan.
C. PERANAN PENELITIAN PENDIDIKAN
Penelitian pendidikan (educational research) merupakan penerapan atau aplikasi pendekatan ilmiah dalam bidang pendidikan dalam rangka memecahkan masalah pendidikan, atau lebih khusus berkenaan dengan masalah pembelajaran.
Ary dkk. Menyatakan bahwa tujuan akhir penelitian adalah : (1) menemukan prinsip atau interpretasi tentang perilaku yang dapat dipakai seseorang untuk (2) menjelaskan (3) mempreiksi dan (4)menegendalikan atau mengontrol peristiwa-peristiwa dalam dunia pendidikan atau dengan ungakapan lain tujuan akhir penelitian itu untuk merumuskan teori ilmiah.
Peranan penelitian bagi kehidupan kita, secara umum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu mendeskripsikan atau menjelaskan, membuktikan/memverifikasi dan menghasilkan. Hampir sejalan dengan pemikiran Ary dkk. Di atas , Gall, Gall & Borg (2003) mengemukakan peranan penelitian secara lebih lengkap lai berkenaan dengan kontribusi penelitian terhadap pengetahuan tentang pendidikan adalah untuk tujuan :
1. mendeskripsikan atau menjelaskan (to describe),
2. memprediksi (to improve),
3. meningkatkan (to improve), dan
4. menjelaskan atau eksplanasi ( to explain ).
D. PARADIGMA PENELITIAN : KUANTITATIF – KUALITATIF
1. Penelitian Kuantitatif
Pada umumnya jika mendengar kata kuantitatif masyarakat awam mengartikannya sebagai angka. Jadi penelitian kuantitatf adalah penelitian yang berkenaan dengan data angka atau numercial.
2. Tipe – Tipe Penelitian Kuantitatif
a. Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen adalah penelitian yang menguji hubungan sebab – akibat . dalam penelitian eksperimen kuasai, random kelompok biasanya dipakai sebagai dasar untuk menetapkan sebagai kelompok perlakuan dan kontrol. Peneloitian eksperimen semu atau eksperimen kuasi pada dasarnya sama dengan penelitian eksperimen yang dijelaskan di atas.
b. Penelitian noneksperimen
Dalam penelitian noneksperimen ada beberapa jenis penelitian yaitu penelitian deskriptif , penelitian korelasional, penelitian kelompok kriteria,dan penelitian meta – analisis. Penelitian kelompok kriteria yaitu penelitian yang dilakukan dimana peneliti menguji ciri – ciri atau karakteristik kelompok yang ada. Penelitian meta – analisis megombinasikan dan menganalisis hasil – hasil penelitian sejenis dan mengujinya atau memperoleh generalisasi.
3. Paradigma Post – postivistik : Penelitian Kualitatif
Paradigma – paradigma dalam penelitian kualitatif tersebut menurut Crasswell (2007) dibedakan menjadi : post – positivistik, konstruktivistik, partisipatori (advokasi) dan pragmatisme.
1) Post – postivistik. Penelitian kualitatif yang menganut pandangan post – postivistik melakukan aktivitas penelitian menggunakan suatu sistem keyakinan. Dalam praktiknya paradigma post – postivistik ini, peneliti memandang penelitian atau penyelidikan sebagai suatu rangkaian yang terdiri atas langkah – langkah atau tahap – tahap , keyakinan pada berbagai perspektif dari pada partisipan bukannya hanya mendasar pada suatu realitas tunggal, dan mendukung metode pengumpulan dan analisis data yang teliti atau cermat.
2) Konstruktivistik atau konstruktivistik sosial. Dalam hal ini individu berusaha memahami dunia sosial nya dengan pandangan subjektif – personal berdasarkan pengalaman nya sendiri dan mengembangkannya. Praktik dalam hal ini permasalahan diungkapkan secara luas dan umum sehingga partisipan atau informan dapat mengkonstruk makna dalam suatu situasi.
3) Partisipatori atau advokasi. Dalam hal ini pandangan ini dikaitkan dengan penelitian tindakan, atau penelitian partisipatori. Tindakan partisipatori ini bersifat berulang atau dialektikal. Penelitian ini juga difokuskan pada upaya membantu individu – individu membebaskan dirinya dari hambatan atau kendala yang dihadapinya.
4) Pragmatisme. Penelitian ini memfokuskan pada penelitian, yaitu tindakan, situasi, dan konsekuensi atau akibat dari penelitian. Dalam praktiknya peneliti akan menggunakan berbagai metode pengumpulan data baik kualitatif dan kuantitatif untuk menjawab pertanyaan dengan baik.
4.Batasan Penelitian Kualitatif
Dalam penelitian kualitatif, peneliti tidak cukup hanya mendiskripsikan penafsiran atau interpretasi dan pengkajian secara mendalam setiap kasus dan mengikuti perkembangan kasus tersebut. Penelitian kualitattif dalah penlitian dimana peneliti dalam melakukan penelitiannya menggunakan teknik – teknik observasi, wawancara atau interview, analisis isi, dan metode data lainnya untuk menyajikan respons dan perilaku subjek. Ciri utama penlitian kualitatif terletak pada fokus penelitian, yaitu kajian secara intensif tentang keadaan tertentu.
5. KARAKTERISTIK PENELITIAN KUALITATIF
Ada beberapa karakteristik penelitian kualitatif. Yin (2011) mengemukakan lima hal penting berkenaan dengan penelitian kualitatif, yaitu:
• Mengkaji makna pengalaman seseorang, dalam situasi kehidupan nyata atau riil
• Merepresentasikan pandangan dan perspektif seseorang (partisipan) dalam kajian
• Mencakup kondisi kontekstual di mana seseorang tinggal
• Memberikan pemahaman tentang sesuatu atau konsep yang ada atau muncul yang membantu untuk menjelaskan perilaku sosial manusia
• Berusaha untuk menggunakan berbagai sumber data bukannya mendasarkan pada data tunggal
Secara rinci karakteristik penelitian kualitatif diuraikan sebagai berikut:
1) Latar alami (natural setting)
Peneliti kualitatif cenderung mengumpulkan data di lapangan berdasarkan situs (tempat) di mana pengalaman partisuipan diperoleh atau permasalahan yang dikaji. Pada situasi ini dilakukan secara tatap muka (face to face) atau interaksi antara peneliti dan subjek beberapa kali (over time).
2) Peneliti sebagai instrumen kunci (as key instrument)
Peneliti kualitatif secara khusus mengumpulkan datanya sendiri secara langsung melalui pengkajian dokumen, mengamati perilaku, dan melakukan wawancara dengan partisipan atau subjek.
3) Sumber data banyak (multipel sources of data)
Peneliti kualitatif menggunakan beberapa cara dalam mengumpulkan datanya, misalnya melalui wawancara (interview), pengamatan atau observasi (observation), bukan hanya mendasarkan pada sumber data tunggal.
4) Analisis data secara induktif (inductive data analysis)
Peneliti kualitatif membuat pola-pola, kategori-kategori, dan tema-tema berasal dari lapangan “bottom up” dengan cara mengorganisasikan data tersebut ke dalam unit-unit informasi.
5) Makna menurut partisipan (patiscipant’s meaning)
Dalam keseluruhan proses penelitian kualitatif, peneliti tetap konsisten memfokuskan pada memahami makna yang dimiliki mneurut partisipan berkaitan dengan masalah yang dikaji, bukan menurut peneliti atau literatur yang ada.
6) Rancangan yang bersifat sementara (tentative design)
Penelitian bersifat sementara artinya, rancangan penelitian yang disusun oleh peneliti tidak secara ketat seperti pada penelitian kuantitatif. Rancangan yang disusun oleh peneliti pada saat awal bisa berubah sesuai dengan lapangan atau setelah peneliti memasuki lapangan dan mengumpulkan data. Dengan kata pendek, penelitian kualitatif lebih bersifat dinamis karena segalanya bisa berubah.
7) Cara pandang teoritik (theoretical lens)
Penggunaan landasan teoritik itu bukan semata-mata untuk dijadikan pijakan yang pertama karena penelitian ini berangkat dari proses induktif, yaitu berangkat dari konteks lapangan.
8) Penelitian interpretatif (interpretative inquiry)
Penelitian kualitatif merupakan suatu bentuk penyelidikan di mana peneliti membuat suatu interpretasi tentang apa yang dilihat, didengar, dan dipahami. Interpretasi yang dilakukan oleh penelititidak dapat dipisahkan dari pemahaman latar, sejarah, konteks sebelumnya. Dengan demikian, interpretasi atau penafsiran tentang hasil penelitian ini bersifat subjektif, dan tergantung pada kedalaman pemahaman setiap subjek dan pembaca.
9) Pertimbangan holistik (holistic consideration)
Para peneliti kualitatif mencoba mengembangkan suatu gambaran tentang masalah atau isu yang dikaji atau diteliti secara lebih kompleks atau menyeluruh.
6. JENIS-JENIS PENELITIAN KUALITATIF
Jenis-jenis penelitian kualitatif menrut,Ary, dkk. (2010) mencakup:
Studi kasus. Studi kasus merupakan suatu tipe kajian penelitian etnografi yang memfokuskan pada suatu objek tunggal, seperti sebuah program, individu, suatu kelompok, suatu institusi atau lembaga, suatu organisasi. Tujuan studi kasus adalah ingin mendapatkan gambaran (deskripsi) dan pemahaman secara mendalam (detail) tentang keseluruhan (kasus). Studi kasus menggunakan berbagai teknik misalnya wawancara, pengamatan dan arsip-arsip untuk mengumpulkan data.
Etnografi. Studi etnografi merupakan suatu kajian yang mendalam mengenai perilaku yang terjadi secara alami atau natural dalam suatu kelompok sosial atau budaya tertentu. Kajian etnografi biasa berakar dari antropologi. Para peneliti menggunakan etnografi untuk mempelajari bagaimana pengalaman belajar yang terjadi atau dialami oleh para siswa di suatu sekolah.
Penelitian sejarah (historical research). Penelitian sejarah pada dasarnya adalah menganalisis terhadap dokumen, catatan, peninggalan-peninggalan (artefak) dan atau menggunakan wawancara dengan para saksi mata atau pelaku sejarah guna memperolehn pemahaman tentang peristiwa masa lalu. Penelitian harus bekerja dengan cermat dan hati-hati untuk menentukan keaslian sumber informasi.
Kajian naratif (narrative inquiry). Dalam suatu kajian naratif, peneliti mengkaji cerita yang disampaikan oleh seseorang tentang kehidupannya dan melakukan konstruksi secara bersama suatu analisis yang bersifat narasi tentang cerita itu.
Penelitian interpretatif. Suatu penelitian interpretatifmemberikan pertimbangan atau interpretasi secara deskriptif yang ditujukan untuk memahami suatu fenomena dengan menggunakan data yang dikumpukan melalui berbagai cara, misalnya melalui wawancara, pengamatan dan kajian dokumentasi. Tujuan penelitian ini dalah untuk memahami latar atau pengalaman yang dialami seseorang atau objek, peristiwa yang ada.
Analisi isi atau dokumen. Analisi isi atau dokumen memusatkan kajian pada analisis dan interpretasi bahan atau materi yang direkam (bahan cetak atau tertulis) untuk mempelajari perilaku manusia.
Teori dasar (grounded theory). Penelitian grounded theory dirancang untuk mengembangkan suatu teori fenomena sosial yang dilandasi oleh data lapangan yang dikumpulkan melalui suatu penelitian. Pengalaman melalui data tersebut menghasilakn pemahaman, hipotesis, dan pertanyaan, yang ditelusuri oleh peneliti melalui pengumpulan data lebih jauh.
Fenomenologi (phenomenological studies). Kajian fenomenologi diawali dengan asumsi bahwa berbagai realitas sosial bea\rasal dari atau berakar dari sudut pandang subjek. Dengan demikian sebuah pengalaman memiliki perbedaan makna bagi setiap orang.
Perbedaan antara Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Penelitian Kuantitatif
|
Penelitian Kualitatif
|
Menganggap
sebuah realitas sosial secara objektif.
|
Menganggap
realitas sosial dikonstruksi oleh partisipan yang terlibat didalamnya.
|
Menganggap
realitas sosial itu relatif tatap terhadap waktu dan tempat.
|
Menganggap
realitas sosial selalu berubah sesuai situasi.
|
Memandang
hubungan sebab akibat antar fenomena sosial dari perspektif mekanistik.
|
Menentukan
manusia sebagai peran utama dalam hubungan sebab akibat antar fenomena
sosial.
|
Bertindak
objektif, tidak memihak terhadap partisipan penelitian.
|
Terlibat
dalam kancah penelitian, menempatkan dalam setting penelitian.
|
Mengkaji
populasi atau sample yang merepresentasikan populasi.
|
Mengkaji
kasus-kasus
|
Mengkaji
perilaku dan fenomena yang dapat diamati.
|
Mengkaji
makna yang ada dibalik perilaku dan fenomena internal.
|
Mengkaji
perilaku manusia secara alami atau dirancang.
|
Mengkaji
tindak manusia dalam situasi alami.
|
Menganalisis
realita sosial dalam bentuk variabel.
|
Melakukan
pengamatan secara menyeluruh kejadian tindak sosial.
|
Menggunakan
konsep dan teori yang terbentuk sebelumnya.
|
Menemukan
konsep dan teori setelah data dikumpulkan.
|
Menghasilkan
data numerikal untuk menyajikan lingkungan sosial.
|
Menghasilakan
data verbal dan gambar untuk merepresentasikan lingkungan sosial.
|
Menggunakan
metode statistik untuk menganalisis data.
|
Menggunakan
induksi analitik untuk menganalisis data.
|
Menggunakan
prosedur inferensial untuk menggeneralisasikan temuan-temuan dari suatu
sampel kepada populasi.
|
Menggeneralisasi
temuan-temuan kasus dengan mencari kasus-kasus lain yang sama.
|
Menyajikan
laporan bersifat objektif tentang hasil penelitian.
|
Menyajikan
laporan yang bersifat interpretatif yang dibangun dari pandangan peneliti
terhadap data dan sadar bahwa pembaca akan membangun konstruksi mereka
sendiri dari hasil laporan tersebut.
|
7. MERANCANG PENELITIAN KUALITATIF
Setiap peneliti mengikuti rancangan penelitian berdasarkan aturan yang telah ditentukan, yang biasanya oleh lembaga untuk diikuti oleh peneliti yang berada di bawah lembaga tersebut. Secara umum, rancangan penelitian adalah serangkaian proses yang memuat langkah-langkah atau tahap-tahap penelitian.
Langkah-langkah dalam penelitian kualitatif dapat diawali dengan:
• Mengidentifikasi Permasalahan atau Fokus
• Merumuskan Masalah atau Fokus Penelitian
• Pentingnya Penelitian dan Pembatasan Masalah
• Memilih Literatur
• Memilih Metode
• Memilih Prosedur Analisis Data
E. GURU SEBAGAI PENELITI
Penelitian pendidikan bukanlah sebuah ilmu yang abstrak. Penelitian itu berguna bagi kita sebagai sebuah alat untuk memecahkan masalah praktis dalam dunia pendidikan. Sebagai guru atau dosen yang juga peneliti, seyogiyanya melakukan penelitian setiap saat atau dilakukan ketika kita sedang mengajar, karena pada saat mengajar bukan tidak pernah kita mendapati sebuah masalah atau kendala, entah itu kendala dari si pebelajar ataupun kendalah dari guru atau dosen itu sendiri. Penelitian merupakan tuntutan kebutuhan bagi para guru sebagai pelaksana pembelajaran di tingkat kelas atau disebut penelitian tindakan kelas.
Penelitian tindakan itu berada pada atau berpijak pada dua sisi, yaitu disatu pihak bisa menggunakan pendekatan kuantitatif dan di pihak lain bisa menggunakan pendekatan kualitatif.
1. Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian tindakan (action research) atau yang lebih dikenal dengan penelitian tindakan kelas (classroom action research), karena pusat kajinya berada di ruang lingkup kelas. Ada juga sebutan lain dari penelitian ini antara lain : penelitian partisipatori, penemuan kolaboratif, penelitian emansipatori, belajar tindakan, penelitian tindakan konekstual yang semuanya itu berada dalam sebuah tema (Brian, 1998). Penelitian tindakan menurut pendapat Watts yaitu sebagai suatu proses, dimana pihak yang terlibat didalamnya mengkaji praktik pendidikan secara sistematik dan cermat dengan menggunakan teknik penelitian, yaitu penelitian tindakan kelas.
2. Penelitian sebagai Proses Reflektif
Penelitian tindakan memunginkan peneliti secara reflektif menilai unjuk kerjanya sehingga ia dapat merupakan perbaikan dan peningkatan praktik. Ada lima karakteristik penelitin tindakan menurut Neuman (2007), yaitu : (1) subjek yang dikaji secara aktif berpartisipasi dalam proses penelitian; (2) penelitian ini mengaitkan antara pengetahuan yang telah ada dan pengetahuan baru atau yang lagi populer; (3) penelitian memfokuskan pada masalah-masalah atau isu-isu yang menonjol; (4) penelitian berupaya mengangkat atau mengembangkan kesadaran atas isu-isu yang berkembang; dan (5) penelitian dikaitkn langsung dengan perencanaan atau program tentang pelaksanaan kebijakan.
Penelitian tindakan memang berbeda dengan jenis penelitian lain. Penelitian ini memfokuskan pada masalah-masalah praktis, guna memperoleh pemecahan secepatnya. Penelitian ini bukanlah suatu penelitian yang hanya mendeskripsikan bagaimana seseorang atau lembaga bertindak terhadap lingkungan diluar dirinya, melainkan juga sebuah mekanisme perubahan yang membantu seseorang atau organisasi yang mencerminkan pada dan mengubah sistem yang ada.
3. Proses atau Langkah Penelitan Tindakan Kelas
Ferancce (2000) lebih jauh mengidentifikasi lima tahap penelitian tindakan, yaitu : (1) identifikasi bidang masalah; (2) mengumpulkan dan mengorganisasi data; (3) mengnterpretasi data; (4) melakukan tindakan berdasarkan data; dan (5) melakukan refleksi.
F. EMPAT TAHAP PENELITIAN
Inilah dia 4 tahap penelitian :
1. Tahap I, pengumpulan data (data collection) adalah suatu cara yang secara autentik dilakuakan dalam penelitian. Pengumpulan data ini sesuatu yang perlu dilakukan saat mengajar. Ada dua alasan penting berkenaan dengan tingkat ini :
Hal ini sangat berguna bagi penemuan apa yang terjadi dalam suatu latar pendidikan, bahkan apabila kita tidak memiliki niat untuk melakukian penelitian pada tingkat yang lebih tinggi.
Hal ini memberikan kepada kita landasan yang sudah pasti untuk melakukan atau menginterpretasi penelitian tentang sebab akibat yang lebih kompleks.
2. Tahap II, validitas internal. Pada level ini ada hubugan sebab – akibat , secara internal menjadi alasan untuk membuat suatu keputusan. Adanya kemiungkinan sebab – akibat yang masih ada ruang gerak untuk meningkatkan sofistifikasi atau kecanggihan keputusan yang kita buat.
3. Tahap III, validitas eksternal, yang kita lakukan dengan cara membahas generalisasi terhadap temuan – temuan penelitian. Level ini mempersyaratkan hal – hal yang terjadi pada level II, karena jika tidak menunjukkan adanya pengaruh atau hubungan maka tidak ada yang dapat kita generalisasikan.
4. Level IV, kesimpulan yaitu penelitian teoritis. Level ini seperti yang dilakukan oleh piaget yang meneliti perbedaan antara berfikir operasional konkret dan operasional formal. Pada level ini peneliti bukan hanya menunjukkan bahwa ada temuan atau hasil penelitian yang adapat digeneralisasikan terhadap situasi baru, di samping memberikan landadan – landasan teoritis dan menjelaskan tentang mengapa sesuatu terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar